• GEMA ALAM NTB

    Gerakan Masyarakat Cinta Alam (GEMA ALAM) merupakan organisasi yang mensinergikan semua potensi gerakan lingkungan hidup dan hak asasi manusia serta memposisikan diri sebagai bagian dari gerakan rakyat dan gerakan sosial untuk melawan dominasi kekuatan kapitalisme global dan kebijakan negara yang (lebih…)

    Read More

Kegiatan

Mengembangkan Potensi HKm Desa Sapit sebagai Destinasi Ekowisata

Kawasan hutan Sapit memiliki kontur berbukit berada pada ketinggian antara 550 hingga 700 MDPL dengan  curah hujan mencapai 2000-4000 mm/tahun. Vegetasi  dengan kerapatan dan tutupan lahan yang cukup bagus, kawasan ini juga memilki fungsi hidrologi sebagai daerah tangkapan air bagi beberapa desa sekitarnya terutama desa Sapit. Masyarakat Sapit memiliki sejarah yang cukup menarik terkait dengan…

Read More

Presentasi Karya Nyata Komunitas Di Acara Sangkep Beleq

Acara dimulai dengan presentasi karya-karya yang dihasilkan oleh komunitas;  Forum  Pemuda Suela menyampaikan  cita-citanya yang ingin mewujudkan kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam yang berperspektif adil gender di desa suela. Sebagai bukti nyata upaya yang dilakukan adalah mereka sudah membangun sekolah alam, paket-paket ekowisata, pusat informasi ekowisata, penguatan kapasitas dan ekonomi perempuan, survey karbon di…

Read More

Sangkep Beleq Perencanaan Komunitas Adil Gender Dalam Pengelolaan Sumber Daya alam

GEMA ALAM NTB didukung oleh OXFAM Indonesia menyelenggarakan Sangkep Beleq (Lokakarya) Perencanaan Komunitas Adil Gender dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam pada hari senin, 3 Juli 2017 di Desa Rempung Lombok Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun komunikasi  dan dukungan dari para pemangku kepentingan, terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur terhadap inisiatif-inisiatif yang telah dibangun oleh…

Read More

Menikmati Hangatnya Minuman Extrak Jahe Khas Desa Mekar Sari

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan, saya terjebak hujan, tetapi  tidak terlalu besar. Jalan yang saya lewati menjadi licin dan sedikit curam. Saya harus berhati-hati, karena lengah sedikit saja pasti tergelincir. Hujan semakin besar, jalan semakin licin, saya tidak mau ambil resiko.

Read More

Tentang Gema Alam NTB

Apa itu Gema Alam NTB? GEMA ALAM NTB adalah sebuah perkumpulan yang beranggotakan individu-individu yang menyatakan diri secara sukarela bergabung  dan menyatukan diri. Organisasi ini merupakan lembaga nirlaba dan independen yang mensinergikan semua potensi gerakan lingkungan hidup dan hak asasi manusia serta memposisikan diri sebagai bagian dari gerakan rakyat dan gerakan sosial untuk melawan dominasi…

Read More

Berita Terbaru

  • Kawasan hutan Sapit memiliki kontur berbukit berada pada ketinggian antara 550 hingga 700 MDPL dengan  curah hujan mencapai 2000-4000 mm/tahun. Vegetasi  dengan kerapatan dan tutupan lahan yang cukup bagus, kawasan ini juga memilki fungsi hidrologi sebagai daerah tangkapan air bagi beberapa desa sekitarnya terutama desa Sapit.
    Masyarakat Sapit memiliki sejarah yang cukup menarik terkait dengan pengelolaan hutan.

    Ada pemahaman secara turun temurun, jika ingin masuk ke kawasan hutan terlebih dahulu harus meminta ijin kepada Mangku Gawar (pemangku hutan). Mangku melakukan permohonan kepada ”penghuni” hutan menggunakan andang-andang (sesajen), dibarengi dengan bacaan mantra (do’a-do’a). Khusus untuk menebang kayu di dalam hutan, pemangku hutan melakukan ritual dengan cara mengikat pohon kayu yang akan ditebang menggunakan ilalang.

    Selanjutnya, jika ikatan ilalang/bangar terbuka dalam waktu 3 hari, itu berarti kayu tersebut tidak boleh ditebang oleh masyarakat tetapi jika sebaliknya maka kayu tersebut dapat ditebang. Sisi lain, masyarakat disembeq (dibacakan jampi-jampi) oleh pemangku sembari menunggu reaksi bangar yang diikatkan pada pohon kayu, cara seperti ini berlangsung terus-menerus ditengah kehidupan masyarakat desa Sapit.

    Sejak tahun 1970 kawasan hutan Sapit telah mulai digarap oleh pengusaha (kontraktor), bekerja sama dengan Departemen Kehutanan. Pohon kayu yang ada ditebang, dan kemudian dilakukan penanaman pohon dengan pola tumpang sari dengan mengerahkan masyarakat sebagai anemer, tenaga upahan. Ini terjadi di kawasan Pidana dan Serata seluas (50 ha) dengan penggarap berjumlah 200 KK, luas garapan rata-rata 25 are.

    Oleh Departemen Kehutanan, lahan yang digarap masyarakat diberlakukan dengan sistem kontrak selama 3 (tiga) tahun. Jenis tanaman kayu yang ditanam oleh masyarakat penggarap saat itu antara lain kayu Mahoni, kayu Manis, Jamplung dan Suren sebagai pohon tegakan dan tumpang sari yaitu Padi, Bawang Putih, Bawang Merah, Cabe dan Jagung.

    Setelah kontrak berakhir 3 (tiga) tahun kemudian, masyarakat penggarap keluar dari kawasan hutan. Ketika ditinggalkan, pohon tegakan sudah mulai tumbuh dengan baik dan masyarakat tidak lagi memanfaatkan lahan untuk tumpangsari. Dalam tenggang waktu yang cukup lama, pada tahun 1985 ada program dari Departemen Kehutanan melalui pemerintah desa membuka lahan hutan kembali di kawasan Borok Nunggal dan Dupe seluas 125 ha.

    Dengan pola yang tidak jauh berbeda, masayarakat ”diberikan” lahan garapan seluas @25 are. Masa kontrak juga sebagaimana sebelumnya, berlangsung selama 3 (tiga) tahun. Pohon tegakan yang ditanam yaitu Nangka dan kayu Manis dengan jarak tanam 3 x 3 meter.

    Berikutnya, antara tahun 1986/1987 pemerintah kembali membuka lahan, juga melalui pemerintah desa yang berlokasi di kawasan Pesuse seluas 50 ha, dengan luas garapan rata-rata mencapai 25 are. Pohon tegakannya adalah Sonokling. Pada periode ini, kontrak berakhir tahun  1988.Menjelang tahun 1989 dibuka lagi kawasan yang berlokasi di Lembak seluas 50 ha dengan luas garapan rata-rata antara 25-35 are. Kayu tegakan juga berupa  Sonokling dan Mahoni, kontraknya tetap sama berjangka tiga tahun.

    Selanjutnya pada tahun 1998, Departemen Kehutanan kembali melaksanakan program yang disebut dengan jalur hijau. Program ini berupa reboisasi di jalur pinggir batas hutan sepanjang 50 meter. Lokasi jalur hijau ini berada di kawasan Sakan dan Pidana. Pada pelaksanaan program ini, sebanyak 20 orang anggota masyarakat diperankan dengan upah harian sebesar Rp.7.000 yang disebut dengan banjar harian. Dalam program ini  Pemerintah melakukan penebangan kayu pada lahan mencapai luas 100 ha.

    Agak berbeda dengan sebelumnya, pada tahun 1999 kawasan Sakan, Pidana, dan Serata kembali dibuka sebagai lahan ”persiapan HKm”. Pada waktu itu kelompok tani pengelola hutan diberikan pelatihan tentang pola pengelolaan HKm oleh RLKT (sekarang BP DAS).

    Pada tahun 2008 total keseluruhan lahan hutan yang digarap oleh masyarakat seluas 454,50 Ha, diusulkan menjadi HKm. Luasan itu dari hasil pemetaan partisipatif oleh masyarakat, yang selama ini digarap di dalam kawasan hutan lindung, akan tetapi berdasarkan SK. 497/Menhut-II/2014 tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Kemasyarakatan, bahwa hutan lindung Sapit ±450 ha (empat ratus lima puluh) ditetapkan sebagai areal kerja hutan kemasyarakatan (HKm).

    Pada tanggal 24 Mei tahun 2016 Gubernur mengeluarkan SK IUPHKm melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan Nomor : 503/012/03/IUPHKm/BKPMPT/2016 tentang IUPHKm selama jangka waktu 35 tahun dengan jumlah pengelola 722 KK.

    Setelah diterbitkannya SK IUPHKm, penataan kawasan sudah mulai dilakukan oleh para penggarap dan pengembangan anekan jenis tanaman hasil hutan bukan kayu (HHBK) dengan tujuan menjadikan kawasan HKm menjadi kawasan agrowisata (wisata buah).

    Selain itu, Sapit juga memilki potensi lain yaitu panorama alam yang”cantik” dengan hamparan gugusan pegunungan kaki gunung Rinjani, cagar budaya berupa Langgar/Masjid tua yang kerap dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Banyak lagi tersimpan potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan seperti jasa lingkungan dan agrowisata. Salah satu yang sudah dimanfaatkan saat ini adalah kawasan HKm di blok Dupe yang dijadikan sebagai areal camping grounddengan pemandangan panorama alamnya yang indah.

    Pada akhir bulan Desember 2016 menjelang tahun 2017, Gema Alam NTB bersama enam komunitas melakukan ujicoba lokasi camping ground bertujuan untuk mengetahui kelayakan lokasi camping yang dirintis oleh kelompok HKm Dongo Baru Desa Sapit. Salah satu titik mulai yang dilakukan oleh kelompok HKm dalam mengembangkan ekowisata adalah dengan membuka lokasi camping di samping mengembangkan tanaman buah.

    Di areal camping ini sudah tersedia sumber air bersih yang dialirkan menggunakan pipa dan sudah disediakan MCK yang standar oleh pengelola untuk memudahkan para pengunjung supaya tidak buang air besar sembarangan. Kedepannya di wilayah areal camping ini akan dibangun rumah pohon dan areal pembibitan supaya pengunjung dapat menikmati indahnya panorama alam desa Sapit.

    ARY

    Mengembangkan Potensi HKm Desa Sapit sebagai Destinasi Ekowisata
  • Acara dimulai dengan presentasi karya-karya yang dihasilkan oleh komunitas;  Forum  Pemuda Suela menyampaikan  cita-citanya yang ingin mewujudkan kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam yang berperspektif adil gender di desa suela.

    Sebagai bukti nyata upaya yang dilakukan adalah mereka sudah membangun sekolah alam, paket-paket ekowisata, pusat informasi ekowisata, penguatan kapasitas dan ekonomi perempuan, survey karbon di kawasan Kebun Raya Lombok dan membuat peta indikatif Desa Suela secara swadaya. Pemuda Desa Beririjarak yang tergabung dalam komunitas GAPURA menampilkan karya yang sudah dilakukan, seperti membuat spot-spot ekowisata, membuat tas dari bahan kantong kresek, penataan dan pemulihan kawasan hutan Gawar Gong.

    Hal ini dilakukan untuk Mengoptimalkan Potensi Sumber Daya Alam Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan memperkuat Kapasitas Pemuda Sebagai Pilar Utama Pembangunan di Desa Beririjarak. Sementara Desa Mekar Sari menampilkan karya kelompok perempuan yang mereka namai KWT Puncak Semaring. Desa ini memiliki kekhasan sendiri, yaitu Jahe yang mencapai 200 ton/tahun. Namun yang menjadi persoalan adalah harga jual yang rendah, di bawah biaya produksi.

    Mengatasi hal tersebut, KWT membuat inovasi dengan mengolah jahe tersebut menjadi minuman ektrak Jahe yang sudah mendapatkan sertifikat P-IRT dari Dinas Kesehatan dan sertifikat halal dari MUI NTB. Kelompok HKm Dongo Baru Desa Sapit membuat inovasi yang tidak kalah menariknya dengan desa lainnya. Saat ini mereka sedang merintis wisata agro di dalam kawasan hutan seluas 52 ha dengan beragam varietas seperti  Durian, Avokad, Jeruk, Jambu, Mangga, Rambutan dan Matoa dan didukung oleh adanya rumah pohon sebagai spot ekowisata alternative.

    Selanjutnya Desa Pringgasela Selatan menyuguhkan karya khasnya, yaitu Tenun. Hal yang patut diapresiasi dari pemuda Desa pringgasela Selatan adalah adanya apresiasi terhadap nilai-nilai budaya dalam tenun. Wujud apresiasinya adalah mereka membangun museum tenun dan sekolah tenun agar eksistensi peradaban ini tidak hilang oleh perkembangan zaman.

    Komunitas berikutnya adalah KPKK Desa Jurit Baru yang menghimpun kaum perempuan. Wadah ini merupakan pabrik yang telah menghasilkan perempuan-perempuan Desa Jurit Baru yang berani menerjang arus ptriarki akut di desanya. Pentolannya kini banyak yang diperhitungkan; di antaranya sudah ada yang dipercayakan sebagai pengurus BUMDES, mereka berhasil mengadvokasi terbitnya peraturan desa tentang pengelolaan air yang berperspektif gender. Untuk meningkatkan perekonomian perempuan, mereka telah menghasilkan berbagai jenis kerajinan tangan berupa tas.

    Presentasi Karya Nyata Komunitas Di Acara Sangkep Beleq
  • GEMA ALAM NTB didukung oleh OXFAM Indonesia menyelenggarakan Sangkep Beleq (Lokakarya) Perencanaan Komunitas Adil Gender dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam pada hari senin, 3 Juli 2017 di Desa Rempung Lombok Timur.

    Kegiatan ini bertujuan untuk membangun komunikasi  dan dukungan dari para pemangku kepentingan, terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur terhadap inisiatif-inisiatif yang telah dibangun oleh komunitas di enam desa yang ada di kawasan Sub DAS Pohgading Sunggen dan Pancor Barong.

    Para pemangku kepentingan yang hadir pada kegiatan ini adalah Asisten 1 mewakili Bupati Lombok Timr, Kepala Dinas Sosial, BAPPEDA, BPPKB, Dinas Pariwisata, KPHL Rinjani Timur, Dinas PMPD, perwakilan kecamatan Suela, Wanasaba dan Pringgasela serta perwakilan kepala desa.

    Sangkep Beleq Perencanaan Komunitas Adil Gender Dalam Pengelolaan Sumber Daya alam
  • Suatu ketika dalam sebuah perjalanan, saya terjebak hujan, tetapi  tidak terlalu besar. Jalan yang saya lewati menjadi licin dan sedikit curam. Saya harus berhati-hati, karena lengah sedikit saja pasti tergelincir. Hujan semakin besar, jalan semakin licin, saya tidak mau ambil resiko.
    (lebih…)

    Menikmati Hangatnya Minuman Extrak Jahe Khas Desa Mekar Sari
  • Gema Alam NTB Dan RMI Bogor Bekerjasama Dengan Universitas Indonesia dalam penguatan kapasitas perempuan di kawasan sub das Pohgading Sunggen dan Pancor Barong Lombok Timur. Kapasitas perempuan sampai saat ini masih jauh tertinggal dari laki-laki.
    (lebih…)

    Gema Alam NTB dan RMI Bogor Bekerjasama Dengan Universitas Indonesia
  • Koperasi Hijau, GEMAALAMNTB.ORG. Istiqomah, estafet dan berkesinambungan adalah bagian dari kata-kata motivasi untuk terus maju dalam menggapai usaha pembinaan.Hingga dikemudian hari usaha-usaha tersebut berbuah dengan hasil yang menjanjikan dan bermanfaat bukan hanya untuk kalangan komunitas. (lebih…)

    Koperasi Hijau GA Pasarkan Produk Komunitas
  • Kemitraan GA NTB – GMI Jerman, GEMAALAMNTB.ORG. Gerakan Masyarakat Cinta Alam NTB (Gema Alam NTB) sudah menjalin kemitraan bersama Global Micro Initiative (GMI)-Jerman. Jalinan Kemitraan tersebut disahkan melalui penandatangan MoU antara Ketua Gema Alam NTB, Haiziah Gazali, S.Pd dan Tobias Schüßler, Direktur GMI Jerman, Sabtu, 20 Mei 2017. (lebih…)

    Gema Alam NTB dan GMI Jerman Berharap Desa Terlepas dari Jeratan
  • Kemitraan GA-GMI. GEMAALAMNTB.ORG Gerakan Masyarakat Cinta Alam NTB (Gema Alam NTB) menjalin kemitraan bersama Global Micro Initiative (GMI)-Jerman. Jalinan Kemitraan tersebut ditandai dengan penandatangan MoU antara Ketua Gema Alam NTB, Haiziah Gazali, S.Pd dan Tobias Schüßler, Direktur GMI Jerman, Sabtu, 20 Mei 2017.
    (lebih…)

    Gema Alam NTB dan Jerman Jalin Kemitraan
  • Kemitraan GA-GMI. GEMAALAMNTB.ORG.  Seindah-indahnya pertemuan, pasti akan berakhir dengan perpisahan. Kesan pun pesan,  selalu ada dibaliknya. Demikian juga dengan kunjungan kepada 2 komunitas di desa Pringgesela dan Suela dalam Agenda Gema Alam NTB dan Global Micro Initiative (GMI)-Jerman. (lebih…)

    Kesan Jerman dengan Tenunan Pringgesela dan Kedai Kopi Suela
  • FGD Desa Jurit Baru, GEMAALAMNTB.ORG. Pada Fokus Group Discussion di Desa Jurit Baru Fasilitator memberikan contoh tentang pengelolaan air di desa Wajageseng Lombok Tengah. Ada desa yang memiliki sumber mata air yang melimpah, namun banyak warga yang merasa tidak memiliki atau mendapatkan air bersih.

    Ada desa yang sangat kurang memiliki mata air , namun memiliki air bersih yang melimpah. Untuk lebih bisa menggali persoalan yang terjadi dengan air bersih fasilitator membagi peserta menjadi lima kelompok untuk mendiskusikan tentang, kelembagaan, tata produksi air bersih, tata distribusi, tata konsumsi dan kebijakan. (lebih…)

    Masalah, Rekomendasi dan Solusi dari FGD di Desa Jurit Baru
  • FGD Desa Jurit Baru, GEMAALAMNTB. ORG. Berbeda halnya dengan empat desa yang lain yang masih focus pada pengelolaan sumber daya hutan  Jurit Baru masih bersoal tentang proses tata kelola air bersih. Sebelum diskusi dimulai kepala desa menyampaikan terkait dengan pengelolaan air bersih.

    System pengelolaan air bersih belum bisa dilakukan. Melihat kondisi air dari tahun 2014 debitnya semakain kecil terutama di tibu bunter sehingga di 3 kekadusan mengalami kekeringan. Ada beberapa cara sudah dilakukan oleh desa, namun belum bisa selesai sampai sekarang.
    (lebih…)

    Tata Kelola Air Bersih Terungkap di FGD Desa Jurit Baru
  • FGD Desa Sapit, GEMAALAM.ORG. Sebagaimana Focus Group Discussion (FGD) di 6 desa binaan lainnya, FGD di desa sapit juga demikian. Menghadirkan para tokoh pemuda, masyarakat dan tak terkecuali komunitas organisasi di desa setempat.

    Pada FGD di Desa Sapit, lebih ditekankan kepada perkembangan organisasi/kelembagaannya pasca terbitnya IUPHKm. Izin Usaha Pengelolaan (IUP) Hutan Kemasyarakat adalah menjadi salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan untuk menekan laju deforestasi di Indonesia dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolan hutan.
    (lebih…)

    FGD Desa Sapit Bahas IUPHKm
  • FGD Desa Beriri Jarak, GEMAALAMNTB.ORG. Sebelum kami menguraikan mandat, dalam hal ini harapan bersama terkait hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, NTB, maka kami akan ulas apa itu FGD. (lebih…)

    FGD Desa Beriri Jarak, Ini Dia Mandatnya.
  • FGD Desa Beriri Jarak. GEMAALAMNTB.ORG. Masih dari acara FGD yang dilaksanakan di Desa Beriri Jarak,Kecamatan Wanasanaba, Lombok Timur, beragam Potensi Alam ada di tersebut. Dalam informasi ini, fokus membahas Kondiri Gawar Gong. Gawar adalah bahasa masyarakat setempat yang maksudnya adalah hutan.

    Salah satu anggota BPD Desa Beriri Jarak mengungkapkan kondisi  di hutan Gong saat ini  kayu yang ditanam sudah banyak, namun tidak bisa tumbuh, hal ini disebabkan dari cara penanaman yang terlalu tebal. (lebih…)

    Membaca Potensi Alam Desa Beriri Jarak
  • FGD Desa Beriri Jarak. GEMAALAMNTB.ORG. Gerakan Masyarakat Cinta Alam (Gema Alam NTB) menemukan beragam potensi yang ada di Gawah Gong. Temuan tersebut terungkap dalam Fokus Group Discussion yang dilaksanakan di Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur. (lebih…)

    Gema Alam NTB Temukan Potensi Rock Climbing di Gawar Gong
  • “Sumber daya alam yang kaya, namun tidak terkelola dengan baik, berpotensi memunculkan persoalan lingkungan, sosial dan bahkan ekonomi masyarakat.” (lebih…)

    Community Organizer Sebagai Agen Perubahan di Desa.
  • Kampung Adil Gender Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA)merupakan  sebuah kondisi di masa depan yang mana laki-laki dan perempuan menjalankan peran dan funsinya dalam pengelolaan SDA secara adil dan setara, (lebih…)

    (MERAJUT MIMPI PEREMPUAN DESA) MEWUJUDKAN KAMPUNG ADIL GENDER DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI KAWASAN SUBDAS POHGADING SUNGGEN DAN PANCOR BARONG LOMOK TIMUR
  • Gabungan Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (GAPOKTAN HKm) Dongo Baru Desa Sapit Kabupaten Lombok Timur  mengadakan Studi Banding Budidaya Kopi Sambung pada hari Kamis, 2 Maret 2017 bertempat di (lebih…)

    GAPOKTAN HKm DONGO BARU DESA SAPIT MENGADAKAN STUDI BANDING BUDIDAYA KOPI SAMBUNG DI DESA REMPEK
  • Baca Dulu : Perempuan Impian

    Awal Tahun 2014 pada pukul 21.00 Wita saat kami sedang duduk dan ngobrol berdua di Berugeq, tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan kepada saya. Suaranya yang lembut, tetapi kelihatan malu-malu dia sepertinya memberanikan dirinya (lebih…)

    Mengarahkan Fikiran Bukan Merubahnya
  • Indrawati adalah nama perempuan cantik yang terbingkai dalam fhoto di atas. Dia lahir di Dusun Bolen Desa Jurit Baru Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur pada tanggal 31 Desember tahun 1992. (lebih…)

    Perempuan Impian
  • Baca Dulu : Menginisiasi Desa Ekowisata

    Selain berupaya keras untuk mendapatkan dukungan dari tokoh dan masyarakat umumnya, Nani dan teman-temannya juga mengorganisir perempuan. Dia tidak ingin perempuan hanya sebagai penerima manfaat, (lebih…)

    Memberdayakan Perempuan
  • Baca Dulu : Tak Bergeming Walau Dicibir 

    Saat ini, bersama organisasi-organisasi tersebut dia sedang menginisiasi  Desa Beririjarak sebagai desa Ekowisata. Dia berkeyakinan bahwa ekowisata merupakan salah satu upaya alternative untuk (lebih…)

    Menginisiasi Desa Ekowisata
  • Sapuan angin lembut  mengusap tubuh, kehangatan perlahan mulai hilang berganti dingin. Baju yang menempel di tubuh ternyata tidak mampu membendung dinginnya malam. Sebagian terlihat mulai memakai jaket. Peserta (lebih…)

    Perempuan-perempuan Penggerak Desa (Tak Bergeming Walau Dicibir )
  • Gema Alam NTB dan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) melalui dukungan MCA Indonesia mengadakan Pelatihan Sistem Informasi Desa (SID) selama 2 hari mulai tanggal 2-3 Desember 2016, bertempat di (lebih…)

    Pelatihan Sistem Informasi Desa
  • Pasar memiliki keterkaitan dengan akses informasi, penguasaan informasi akan membantu menghubungkan kepada pihak lain yang memiliki kepentingan dengan usaha kita. Salah satu kendala kenapa kemudian akses pasar bagi (lebih…)

    Mengoptimalkan desa sebagai sentra informasi masyarakat
  • Berbagai bentuk program pemberdayaan saat ini tengah digulirkan oleh pemerintah baik itu pemerintah pusat, daerah ataupun pemerintah desa. Sasaran dari program tersebut utamanya kepada masyarakat miskin. (lebih…)

    Menata Pengelolaan Informasi Desa Sebagi Upaya Pemenuhan Hak-hak Masyarakat
  • Lahirnya UU Desa Nomer 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan harapan bagi desa untuk dapat membangun kemandirian masyarakatnya dalam segala bidang. UU tersebut mengisyaratkat kebijakan anggaran dari pemerintah pusat yang (lebih…)

    KOMUNITAS KESULITAN MENDAPATKAN AKSES DANA DESA
  • Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa, PDTT) telah menerbitkan Permendes Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa 2017.

    (lebih…)

    Permendes Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa 2017
  • LAHIR DAN BERKEMBANGNYA PENGGERAK DESA
    “MENDORONG KETERLIBATAN AKTIF PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DAN HUTAN”

    Secara geografis, kawasan Sub DAS Pohgading Sunggen terletak di lingkar kawasan Rinjani. Di kawasan ini terdapat 14 desa yang dihuni oleh 20.099 KK/61.738 Jiwa (Profil desa-desa kawasan; 2010). Begitu pula dengan kawasan Sub DAS Pancor Barong, letaknya yang berbatasan langsung dengan kawasan Rinjani menjadikannya subur dan memiliki potensi sumber daya alam cukup berlimpah seperti hutan, air, pertanian, perkebunan dan potensi wisata alam.

    Idealnya, pengelolaan sumber daya alam (PSDA) yang baik mestinya mengakomodir peran dan kepentingan laki-laki dan perempuan secara adil, mengingat laki-laki dan perempuan memiliki saling keterhubungan dan ketergantungan secara kolektif. Hal ini senada dengan pendapat Ivan Illich (1998: 130) bahwa di bawah pengayoman gender, laki-laki dan perempuan saling ketergantungan (interdependensi) secara kolektif, ketergantungan timbal balik mereka menetapkan batas-batas pergulatan, ekploitasi, kekalahan. Namun demikian, “kompromi” yang baik dan adil antara laki-laki dan perempuan akan dapat tercapai jika relasi kuasa diantara keduanya berjalan seimbang. Relasi kuasa dimaksud, dalam kasus ini, berkenaan dengan penguasaan, pengelolaan, pemanfaatan dan status kepemilikan (tenurial) tanah, hutan, air, dan sumber daya lainnya. Jika tidak, maka interdependensi kolektif kedua belah pihak akan berdampak sebaliknya, tetap menghasilkan ketimpangan.

    Haiziah Gazali (Ketua Gema Alam NTB) menuturkan bahawa “Fakta yang terjadi di desa-desa kawasan, SDA yang melimpah tersebut belum terkelola dengan baik, adil (sosial dan gender) dan berkelanjutan. Hal ini terjadi karena konstruksi sosial (gender) yang berlaku selama ini menempatkan perempuan sebagai makhluk nomor dua (subordinasi)”.

    “Dampaknya, timbul berbagai permasalahan seperti pada pengelolaan sumber daya air yang berjumlah rata-rata antara 3 – 5 unit di setiap desa dengan debit rata-rata antara 90 – 254 liter/detik tidak dapat menjamin akses masyarakat secara merata baik air untuk irigasi maupun air bersih. Begitu pula dengan potensi sumber daya hutan di desa Sapit yang saat ini dimanfaatkan sebagai areal kerja Hutan Kemasyarakatan (HKm), tidak semua masyarakat yang rentan dan sangat membutuhkan yang dapat mengaksesnya terutama perempuan. Imbuh Haiziah Gazali di depan 10 orang peserta pelatihan.

    Diar Ruly Juniari (Koordinator Program) menambahkan “misalkan saja, di Desa Suela yang memiliki potensi kawasan hutan sebagai obyek wisata alam sekaligus sumber mata air, hingga saat ini hanya bisa diakses sebagai tempat rekreasi publik, sementara masyarakat setempat tidak dapat terlibat sebagai pengelola karena penguasaannya dimiliki oleh pengusaha, mengingat penentuan pihak pengelola dilakukan oleh pemerintah kabupaten dengan mekanisme tender. Selanjutnya, pengelolaan lahan pertanian dan perkebunan masih sangat kental diwarnai dengan pembedaan jenis pekerjaan yang berkonsekuensi pada besaran upah antara buruh tani laki-laki dan perempuan”.

    Untuk menyikapi kondisi di 5 desa tersebut, Gema Alam NTB memandang perlu adanya upaya yang harus dilakukan untuk meretas ketidakadilan dalam PSDA. Salah satu strategi yang diterapkan adalah melakukan pengorganisasian pada kelompok perempuan, kelompok laki-laki dan pemerintah desa (Pemdes).

    Muhammad Juaini selaku fasilitator pelatihan mengungkapkan bahwa “Penggerak Desa yang terlatih hendaknya dapat menumbuhkan kesdaran kritis, pendidikan berkelanutan dan dapat menguatkan organisasi. Sehingga Pelatihan Penggerak Desa hajatnya agar 10 orang penggerak desa mendapatkan pemahaman dan keterampilan memetakan kondisi sumber daya air, hutan dan pertanian di desa masing-masing serta yang tidak kalah pentinnya adalah agar dapat memahami dan memiliki kesadaran akan pentingnya perempuan terlibat dalam pengelolaan sumber daya air, hutan dan pertanian”.

    Pelatihan Penggerak Desa Kawasan Sub DAS Pohgading Sunggen dan Pancor Barong, yang sudah berlangsung selama dua hari mulai tanggal 26-27 September 2015 bertempat di Kantor Koperasi Bintang Muda Desa Beriri Jarak Kecamatan Wanasaba berlangsung dengan menarik. Pelatihan ditutup dengan mengikat komitmen laki-laki penggerak desa kawasan untuk mendorong keterlibatan aktif perempuan dalam pengelolaan sumber daya air dan hutan, tertuang dalam naskah deklarasi yang ditanda tangani bersama.

    L. KHAERUL ANWAR (DIVISI KAMPANYE)

    Mendorong keterlibatan aktif perempuan dalam pengelolaan sumber daya air dan hutan
  • Gema Alam NTB bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Sekretariat Daerah) berencana akan melakukan Lounching Standar Operasional Prosedur Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (SOP-PPID). Lounching ini akan dihadiri oleh 100 orang terdiri dari semua SKPD, Kecamatan, Desa, Ormas, masyarakat dan Media masa. Lounching SOP-PPID, akan selengarakan pada Hari Selasa, 22 September 2015, pukul 09:00 Wita, berlokasi di Pendopo Bupati Lombok Timur.

    Divisi Kampanye Gema Alam NTB (L. Khaerul Anwar
    085-737-597-519)

    Kerja sama dengan PEMDA LOTIM

Artikel & Berita

Presentasi Karya Nyata Komunitas Di Acara Sangkep Beleq

Acara dimulai dengan presentasi karya-karya yang dihasilkan oleh komunitas;  Forum  Pemuda Suela menyampaikan  cita-citanya yang ingin mewujudkan kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam yang berperspektif adil gender di desa suela. Sebagai bukti nyata upaya yang dilakukan adalah mereka sudah membangun sekolah alam, paket-paket ekowisata, pusat informasi ekowisata, penguatan kapasitas dan ekonomi perempuan, survey karbon di…

Read More

Sangkep Beleq Perencanaan Komunitas Adil Gender Dalam Pengelolaan Sumber Daya alam

GEMA ALAM NTB didukung oleh OXFAM Indonesia menyelenggarakan Sangkep Beleq (Lokakarya) Perencanaan Komunitas Adil Gender dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam pada hari senin, 3 Juli 2017 di Desa Rempung Lombok Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun komunikasi  dan dukungan dari para pemangku kepentingan, terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur terhadap inisiatif-inisiatif yang telah dibangun oleh…

Read More

Menikmati Hangatnya Minuman Extrak Jahe Khas Desa Mekar Sari

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan, saya terjebak hujan, tetapi  tidak terlalu besar. Jalan yang saya lewati menjadi licin dan sedikit curam. Saya harus berhati-hati, karena lengah sedikit saja pasti tergelincir. Hujan semakin besar, jalan semakin licin, saya tidak mau ambil resiko.

Read More